TOPIK TERPOPULER
Gelandang asal Ghana, Michael Essien sesaat setelah menandatangani kontrak dengan Persib di Graha Persib, Jalan Sulanjana, Kota Bandung pada Selasa (14/3/2017).
BUDI KRESNADI/JUARA.NET
Gelandang asal Ghana, Michael Essien sesaat setelah menandatangani kontrak dengan Persib di Graha Persib, Jalan Sulanjana, Kota Bandung pada Selasa (14/3/2017).

Bisakah Essien Buktikan Kelasnya di Persib?

JUARA.net - Pada Selasa (14/3/2017), dunia sepak bola dikejutkan dengan berita perpindahan Michael Kojo Essien ke Persib Bandung. Sejumlah media mancanegara memberitakan perpindahan mantan gelandang Chelsea tersebut. 

"Mantan bintang Chelsea Michael Essien bergabung dengan klub yang belum pernah terdengar sama sekali," tulis GiveMeSport, salah satu media olahraga yang berbasis di London, Inggris.

Essien bisa dikatakan sebagai salah satu gelandang terbaik di dunia - setidaknya pada era keemasan dia. Rentetan gelar pernah diraihnya bersama Olympique Lyon dan Chelsea, dua klub besar di Perancis dan Inggris.

Bahkan, ketika kondisinya tak sebugar dulu karena mengalami cedera akut, Essien tetap menjadi daya tarik bagi klub lain. Real Madrid pernah meminjam jasanya, lalu AC Milan menggaetnya.

Selepas dari AC Milan, Essien yang masih membawa cedera bawaan, masih laku di pasaran saat dikontrak oleh salah satu klub besar Yunani, Panathinaikos. Saking besarnya nama Essien, dia menjadi pemain dengan nilai kontrak terbesar di klub tersebut.

Bisa dikatakan, Essien sudah merasakan segala kemewahan sepak bola Eropa dengan segala kemegahan kariernya itu. Bukan hanya Eropa, bahkan dunia. Ingat, dua kali dia merepresentasikan The Black Star - julukan tim nasional Ghana - di kompetisi sepak bola terakbar di muka bumi, Piala Dunia.

Piala Dunia, turnamen yang hanya bisa kita rasakan riuhnya tiap empat tahun sekali - sekalipun banyak dari kita mengklaim bahwa negeri ini tampil sebagai wakil Asia pertama yang bisa tampil di dalamnya, padahal Indonesia baru merdeka tujuh tahun setelahnya.

Berdasar pengalaman, prestasi, kemampuan, dan usianya yang "masih" 34 tahun itulah, Essien dianggap masih bisa laku untuk dijual ke klub dengan iklim kompetisi yang lebih baik di Eropa atau bergabung ke klub MLS, Jepang, bahkan China, tetapi kenapa Indonesia?

Kejutan? Memang.

Bagaimana mungkin, Essien sebagai kolektor medali juara Premier League hingga Liga Champions memilih bergabung dengan klub dari negara yang disebut penyanyi Justin Bieber the middle of nowhere?

Bagaimana mungkin, Essien yang pada 19 Mei 2012 dikalungi medali juara Liga Champions di Allianz Arena, berselang 1.760 hari berganti kostum ke klub biru lain yang berjarak 12.050 kilometer dari kota kelahirannya, Accra.

  • Editor : Jalu Wisnu Wirajati
TOPIK :

Komentar