TOPIK TERPOPULER
Penyerang Real Madrid, Cristiano Ronaldo, bereaksi pada laga leg pertama perempat final Copa del Rey antara Real Madrid dan Celta Vigo di Estadio Santiago Bernabeu pada 18 Januari 2017.
DENIS DOYLE/GETTY IMAGES
Penyerang Real Madrid, Cristiano Ronaldo, bereaksi pada laga leg pertama perempat final Copa del Rey antara Real Madrid dan Celta Vigo di Estadio Santiago Bernabeu pada 18 Januari 2017.

Bagaimana Rasanya Menjadi Cristiano Ronaldo?

Mungkin sebagian sudah tahu bahwa Ronaldo nyaris menyerah dengan sepak bola.

Di usia remaja, ia pernah didiagnosis menderita tachycardia, yaitu sebuah fenomena dimana denyut jantung berdetak lebih banyak dari orang normal pada umumnya.

Cristiano Ronaldo, bahagia dengan penayangan perdana film dokumenternya.
Cristiano Ronaldo, bahagia dengan penayangan perdana film dokumenternya.
JACK TAYLOR/AFP

Ronaldo diminta memilih: Dioperasi dengan risiko berbahaya, atau berhenti dari sepakbola. Ronaldo, karena sudah punya visi tentang masa depannya yang gemilang, memilih untuk dioperasi.

Ronaldo tahu, ia harus menekuni sepak bola sebagai satu-satunya jalan untuk melepaskan keluarganya dari kemiskinan.

Ayahnya hanyalah seorang tukang penyedia alat-alat olahraga di tim amatir bernama Andorinha dan dengan demikian tidak mampu menyejahterakan ia dan tiga saudaranya: Kakak laki-lakinya, Hugo, dan dua kakak perempuannya, Elma dan Liliana Catia.

Di masa-masa ketika mulai mendapatkan ketenaran hasil dari prestasinya di lapangan hijau, jangan kira juga Ronaldo menikmati kehidupan gemerlap.

Di tengah labelnya sebagai seorang “fashion icon” dan malah simbol seks, Ronaldo, sebagai seorang Katolik taat, mengakui bahwa ia selalu berupaya untuk menghindarkan diri dari perbuatan negatif.

Di film yang bercerita tentang biografi dirinya, Ronaldo, atas upayanya untuk tetap ada di jalur kebaikan itu, bahkan seringkali menjadi kesepian.

“Di sepak bola, saya tidak punya banyak teman. Tidak banyak orang yang bisa saya percaya. Saya malah mengategorikan diri sebagai orang tertutup dan terasing,” begitu pengakuan Ronaldo.

Ronaldo terus berjuang melawan rasa sakit itu sehingga di lapangan hijau, ia hanya ingin memberi makna bagi kehidupan keluarganya yang hampir terenggut oleh kebiasaan buruk sang ayah.

Tidak sulit untuk mengasosiasikan gerak-gerik CR7 dengan uang. Apapun yang dilakukannya telah menjadi suatu komoditi yang menggiurkan.

Namun Ronaldo tidak sama seperti misalnya, David Beckham yang begitu laku dijual sehingga tak penting lagi apa yang dilakukannya di lapangan hijau.

Ronaldo selalu ingin fokus memberi kontribusi bagi tim, sehingga sebenarnya apapun hiruk pikuk di luar sana, ia sama sekali tidak ingin terlibat.

Baginya, seperti kata Wogan di atas, popularitas adalah rasa sakit.

Ronaldo terus berjuang melawan rasa sakit itu sehingga di lapangan hijau, ia hanya ingin memberi makna bagi kehidupan keluarganya yang hampir terenggut oleh kebiasaan buruk sang ayah.

Pada titik ini, menjadi Ronaldo mungkin tak semenyenangkan yang kita bayangkan.

Di tengah-tengah publik yang terus mengelu-elukan dirinya dan industri yang terus menerus menjadikan dirinya sebagai mesin uang raksasa, Ronaldo adalah terus bersitegang antara masa kecil dan masa dewasanya; popularitas dan kesepiannya; serta malaikat dan iblis yang terus berbisik kepadanya.

TOPIK :

Komentar