BMX: Dari Gaya Bebas Sampai Lompat Kelinci

By Caesar Sardi - Rabu, 26 Februari 2014 | 09:00 WIB
Henryco dari Jakarta merebut juara Ramps dan meraih Piala Gubernur.
Dok. Mingguan BOLA
Henryco dari Jakarta merebut juara Ramps dan meraih Piala Gubernur.

nyentak halaman Parkir Timur Senayan lewat lagunya Part Time Lover. Puluhan remaja secara bergiliran beraksi ikut irama dan menghentak-hentak sepeda BMX-nya. Mereka melayang dan menerjang papan lompat pada ketinggian dua setengah meter, lalu menginjak atau bahkan tidur di atas sepeda yang rodanya terus berputar.

Minggu pagi, 4 Mei lalu adalah saat ketiga bagi perintis permainan BMX (Bicycle Moto Cross) mempertontonkan daya tarik kontes bersepeda yang terhitung masih "bocah" usianya di Indonesia. Kali pertama mereka tampil di Ancol November 1985. Untuk penampilan kedua mereka mempesona Kota Kembang Bandung Februari lalu. Harapan mereka tak lain agar ketangkasan bersepeda ini bisa mendapat tempat di hati masyarakat luas. Dan kalau mungkin ikut terpasang dalam daftar cabang olahraga KONI.

Permainan ini sebenarnya baru dua tahun terakhir tumbuh di Jakarta serta diikuti beberapa kota besar lain seperti Bandung, Jogja, dan Surabaya. Kemudian pelan-pelan ia menyentuh pinggiran kota dan mulai disenangi sampai Sukabumi, Bogor, dan sekitarnya. Modal utama untuk permainan ini berupa paduan antara ketangkasan dan keseimbangan serta sepeda BMX itu sendiri.

Keistimewaan sepeda BMX barangkali terletak pada stang yang bisa diputar 360 derajat, batang yang ringan, ban dengan permukaan kasar, serta plat yang memakai lembaran logam sebagai pengganti jari-jari. Lebih dari itu, ia tak ubahnya perangkat sepeda mini biasa. Untuk suatu penampilan yang aman serta memberi gambaran pembalap moto-cross yang jantan, maka baju lengan panjang dengan beberapa bagian tebal berisi spon berikut helm menutup tubuh mereka yang tengah beraksi di lapangan beraspal itu.

Nyentrik

Terbentuknya klub-klub BMX di kota-kota yang sudah terlanda "asyik-masuk" permainan, ini menjadikan kesempatan dan teknik-teknik ketangkasan bersepeda tumbuh subur. Di Jakarta kini ada sekitar tiga puluhan klub BMX. Nama-namanya sedikit nyentrik dan berbau kebarat-baratan seperti: Hurray, Madona, GT Pro, Racker, Pacman, dan lain-lain. Salah satu klub yang menonjol di Bogor saja, memakai nama tak kalah "wah": Street Spider.

Klub-klub inilah yang mengkoordinir tempat dan jadwal latihan. Tentu penyediaan sarana lain seperti papan lompat dua setengah meter yang disebut "ramps" berbentuk tanjakan patah, akan lebih mudah melalui klub. Kalender pertandingan pun bisa dirembukkan lewat pembina klub.

Di samping orang-orang klub Yarnek dan Persatuan Remaja Alphabetical tampak punya harapan dan peranan besar dalam arus perkembangan permainan ini. Mereka mencoba segala macam formula agar ketangkasan bersepeda bisa menarik para pemula. Kapan perlu, beberapa rumusan sementara ditelurkan. Misalnya, kriteria senior dan yunior yang memakai tolok ukur frekuensi pertandingan yang pernah diikuti. Kalau Anda telah mengikuti pertandingan lebih dari dua kali, Anda bisa tergolong senior. Batas umur - biasanya 15 tahun untuk sebutan senior - hanya jadi patokan nomor dua dan tiga.

Dilihat dari sudut animo penonton sebagai target audience yang ingin dicapal, yaitu kalangan anak-anak sampai remaja, maka pengunjung yang padat boleh jadi ukuran keberhasilan panitia. Dilihat dari jumlah 109 peserta pun panitia bisa berbesar hati. Keduanya ini bisa disatukan dengan sambutan tepuk tangan hadirin serta kegairahan peserta bergaya dalam batasan waktu yang disediakan.

Ban Kempes

Sebelum pertunjukan dibuka, sebagian peserta sudah siap-siap dengan sepeda BMX aneka warna dan juga pompa. Pompa ini sebenarnya bukan dibutuhkan untuk menambah padatnya udara dalam ban. Justru untuk menjaga kemungkinan terlalu sedikitnya udara karena teledor waktu mengempeskan ban untuk keperluan akrobatik.

Lomba dimulai dari kelas A: permainan Ramps sekaligus dengan bunga-bunga permainan bawah. Bagi yang merasa terspesialisasi pada permainan bawah, tersedia kelas B dengan nama Ground Trick. Pada kelas terakhir, kelas C, dapat disaksikan Bunny Hop, ketangkasan loncat tinggi ala atletik, yang sering disebut juga sebagai lompat kelinci. Sedang keseluruhan perlombaan mengambil nama: BMX Free Style Contest. Atau Kontes Gaya Bebas Ketangkasan Bersepeda BMX.

Kontes ini semakin meriah dengan piala-piala yang disediakan, antara lain dari Gubernur DKI Jaya. Jika mungkin, dari hasil perlombaan akan dipilih duta-duta Indonesia untuk forum internasional. Seperti dapat diketahui dari nama pertandingan, nama kelas, serta nama klub-klub yang ada, permainan ini memang telah terlebih dahulu mewabah di luar negeri seperti daratan Eropa, Amerika, dan Jepang.

Berapa duit harus dikeluarkan untuk memperoleh dan bermain-main dengan sebuah sepeda BMX? Rp 300.000! Dan kalau Anda sedikit pintar tambal sulam bisalah dikurangi hingga setengah harga. Tampaknya soal doku ini harus diperhitungkan sebagai faktor yang bakal mempengaruhi arus laju ketangkasan dan seni bersepeda ini di tengah masyarakat.

(Penulis: Effendi Gazali, Mingguan BOLA Edisi No. 116, 16 Mei 1986)



Editor : Caesar Sardi

YANG LAINNYA

SELANJUTNYA INDEX BERITA

Close Ads X