Hendra Setiawan Anggap Bahwa Kejujuran Diperlukan ke Partnernya

By Imadudin Adam - Minggu, 23 Juni 2019 | 08:15 WIB
Pasangan ganda putra Indonesia, Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan, saat berlaga pada babak kesatu Kejuaraan Asia 2019 di Wuhan Sports Center Gymnasium, Rabu (24/4/2019).
BADMINTON INDONESIA
Pasangan ganda putra Indonesia, Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan, saat berlaga pada babak kesatu Kejuaraan Asia 2019 di Wuhan Sports Center Gymnasium, Rabu (24/4/2019).

JUARA.NET - Hendra Setiawan membagikan pengalamannya selama menjadi salah satu pebulu tangkis ganda putra terbaik Indonesia.

pebulu tangkis berusia 34 tahun ini mengungkapkan bahwa dia tidak selalu bisa mengeluarkan kemampuan terbaiknya di beberapa momen.

Menurutnya, hal itu merupakan hal yang biasa dalam dunia olahraga.

"Kalau ada yang bilang, mainnya lagi nggak enak, itu memang bisa saja dialami sama pemain, saya pun begitu. Kalau saya, main nggak enak itu kalau mau netting nyangkut, mau apa-apa nyangkut, mati sendiri," tutur Hendra dikutip Badmintonindonesia.org.

Hendra mengakui bahwa hal ini tidak dapat diprediksi kapan akan dialami seorang atlet. Bahkan ketika atlet tersebut telah melakukan persiapan sebaik mungkin, bisa saja menemui situasi yang tak diharapkan terjadi di lapangan.

"Kadang sudah prepare, tapi pas nggak enak mainnya, itu kadang nggak tahu faktor penyebabnya," kata Hendra.

Lebih lanjut, Hendra mengatakan bahwa pemain tak boleh membiarkan keadaan ini terus terjadi di lapangan, pemain mesti mengetahui bagaimana caranya menghadapi kendala tersebut.

BACA JUGA: Super Cerdas, Ini Sosok Paling Berpengaruh di Yamaha Bagi Rossi

Setiap pemain memiliki cara yang berbeda-beda dalam mengatasi permasalahan di lapangan.

"Kalau lagi nggak enak mainnya, harus bisa ngatasin, semua pemain punya cara masing-masing. Kalau saya, jadi mainnya drive dulu, asal masuk dulu, tapi kadang asal masuk pun nggak dapet feel-nya. Nggak gampang, kan?" ucap Hendra yang kini berpasangan dengan Mohammad Ahsan.

Di sektor ganda, tentunya performa seorang pemain akan mempengaruhi pasangan mainnya.

Dituturkan Hendra, seorang pemain ganda mesti punya komunikasi yang baik dengan pasangan dan tak ragu mengakui jika sedang tidak dalam penampilan terbaik.

"Memang susah, pasti ada pengaruhnya ke partner, tapi kalau bisa nggak berpengaruh, itu baru bagus. Pernah juga kami dua-duanya sama-sama lagi nggak enak mainnya. Kami diskusikan berdua, mau bagaimana ini? Apa main defense dulu? Harus ngomong kalau saya lagi nggak enak nih mainnya," ungkap Hendra.

"Yang penting ngomong sama partner kalau mainnya lagi nggak enak, harus diomongin. Tidak ada rasa sungkan, harus mengakui, jangan gengsi. Sebenarnya semua pemain pasti merasa kalau partnernya mainnya lagi nggak enak, tapi kan akan lebih baik kalau bilang saja. Kalau partner lagi nggak enak, ya harus dimengerti, mungkin kita pernah dalam kondisi begitu dan partner kita bisa memaklumi. Saya juga pernah mati-mati sendiri kan. Pikir positif saja," tuturnya.

Kondisi seperti ini membuat Hendra dan Ahsan kadang bertukar peran di lapangan. Hendra yang biasanya bertugas di depan net, tak jarang berotasi ke area belakang lapangan dan Ahsan ke depan.

"Sebelum sama Ahsan, sama Kido pun begitu. Kalau sudah dapet feel-nya bisa balik lagi, tapi kalau sampai akhir pertandingan belum balik ya bisa sampai akhir ganti peran. Semua balik lagi tergantung kondisi di lapangan," ujar peraih medali emas ganda putra Olimpiade Beijing 2008 bersama Markis Kido ini.

Dikatakan Hendra, banyak faktor yang membuat pasangan ganda itu berotasi. Terkadang situasi di lapangan meleset dari apa yang mereka harapkan, sehingga mereka mesti putar otak untuk mengubah strategi permainan.

Hal inilah yang dikatakan Hendra, harus dimiliki setiap pemain, kemampuan untuk mengatur dan mencari jalan keluar jika menghadapi situasi yang sulit di lapangan.


Editor : Imadudin Adam
Sumber : Badminton Indonesia

YANG LAINNYA

SELANJUTNYA INDEX BERITA
Close Ads X