TOPIK TERPOPULER
Ritual Gadhimai, ritus keagaaman dari nepal yang mengorbankan ratusan ribu hewan
Dailymail
Ritual Gadhimai, ritus keagaaman dari nepal yang mengorbankan ratusan ribu hewan

Mengenal Ritus Pembantaian Hewan Terbesar di Dunia Dari Salah Satu Peserta Fun Asian Games 2018

Nepal adalah salah satu negar di Asia yang mengikuti gelaran Asian Games Fun Run 2018, namun ada tradisi unik di negeri tersebut yang membantai ratusan ribu hewan untuk dipersembahkan kepada Dewi Gadhimai.

Intisari-online.com - Pernahkan kamu mendengar nama ritual Gadhimai, sebuah ritual yang korbankan lebih dari 250 ribu hewan ternak.

Ritual ini diselenggarakan di Nepal, sebuah negara Hindu yang konon memang memiliki tradisi yang sangat kuat.

Salah satu yang terkenal dari negara tersebut, selain pisau kukrinya yang konon harus "meminum darah" ketika dicabut dari sarungnya, adalah Gadhimai.

Gadhimai merupakan ritual keagamaan yang dilaksanakan lima tahun sekali di Kuil Gadhimai, yang terletak di Bariyarpur, Nepal, yang berbatasan dengan India.

Ketika ritual tersebut digelar para pemeluk Hindu berduyun-duyun datang ke kuil tersebut, dengan tujuan untuk mendapatkan berkah dari ritual tersebut.

Pada hari pertama, festival memotong lebih dari 6.000 ekor kerbau dan sedikitnya 100 ribu kambing disembelih.

Itu belum hari-hari setelahnya.

Hal ini memang hal yang lumrah di negara tersebut, mengingat 80 persen penduduknya beragama Hindu atau sekitar 27 juta jiwa.

Pada saat acara tersebut berlangsung pemerintah setempat juga menurunkan kepolisian untuk memastikan tidak ada bentrokan antar aktivis penganut.

Para pemuja kepercayaan percaya jika pengorbanan hewan tersebut akan mendatangkan keberuntungan setelah Dewi Gadhimai terpuasakan.

Ritual tersebut dimulai pada pagi hari dengan ditandai pengorbanan lima hewan terdiri dari tikus, kambing, ayam jantan, babi dan burung dara.

Lalu, ribuan hewan digiring menuju lapangan untuk dibantai, setidaknya 6.000 kerbau dan ribuan kambing dibawa ke tempat tersebut dipenggal kepalanya.

Setelah dipenggal, kepala hewan-hewan tersebut dikubur dan bagian kulit akan dijual ke pengrajin.

Meski sudah menjadi tradisi dan dilakukan turun temurun tradisi ini mendapat kecaman dari banyak pihak, salah satunya organisasi hak-hak hewan, PETA, bahkan mereka meminta untuk menghentikan ritual tersebut.

Bahkan dalam aksinya PETA menyuarakan kampanye untuk menghentikan pembantaian massal tersebut.

"Sangat tidak layak membunuh binatang dengan mengatasnamakan agama," kaat Uttam Kafle, anggota perlindungan hak hewan kepada Reuters.

"Kami mencoba meyakinkan masyarakat bahwa mereka bisa saja melakukan pemujaan dengan cara yang damai, tanpa perlu melakukan kekejaman terhadap hewan," lanjut Uttam.

Terakhir kali ritual tersebut diselenggarakan pada 2014, hingga kini belum lagi terdengar ritual tersebut diselenggarkan. (Afif Khoirul M)

TOPIK :

Komentar