TOPIK TERPOPULER
Tampilan Tabloid BOLA No.133 halaman 4
DOK.BOLA
Tampilan Tabloid BOLA No.133 halaman 4

JUARA Klasik 31 Agustus: Solo dan YPOC Sukses, tapi Bukan Tanpa Cacat

JUARA.net - Fespic Games (atau Pekan Olahraga Penyandang Cacat Timur Jauh dan Pasifik Selatan) IV berlangsung 31 Agustus sampai 7 September 1986 di Solo, Jawa Tengah. Ketika itu, kontingen Indonesia belum berhasil mencapai ambisinya merebut posisi juara umum. Posisi pengumpul medali terbanyak itu direbut secara meyakinkan oleh Australia.

Artikel ini muncul di Tabloid BOLA No.133 pada 12 September 1986

Penulis :  Zaenal Effendy

Walau demikian ada kebanggaan lain yang terbersit, yakni dari penyelenggaraannya.

Pekan Olahraga Penyandang Cacat sangat jauh berbeda dengan PON misalnya.

Dalam hal-hal tertentu penyelenggara harus memiliki kemampuan khusus untuk menanganinya. Apalagi ini menyangkut sekitar 900 atlet dari 19 negara. Bahasanya Iain-lain, cacatnya pun tak sama.

Cacat amputasi misalnya, terbagi dalam beberapa kategori, putus pergelangan, lain dengan kategori cacat lengan. Putus satu tangan tak bisa dipertandingkan dengan putus dua tangan. Demikian juga cacat lainnya, seperti cacat kaki dan sebagainya.

Dengan kenyataan seperti itu nampaknya Solo sudah pantas menjadi tuan rumah PON.

Paling tidak sebagai tuan rumah patungan dengan Semarang atau Yogyakarta misalnya.

Sebab fasilitas yang dimillki Solo cukup komplet. Gelora Manahan, Stadion Sri Wedari, Bengawan Sport Centre (milik swasta) maupun lapangan tembak Polri nampak cukup memadai.

Unik Menarik

Menyaksikan Pekan Olahraga Penyandang Cacat tentunya orang mengira hanya akan mengundang belas kasihan.

Ternyata tidak seluruhnya benar. Memang ada yang mengundang iba, tetapi pada umumnya atlet, pelatih maupun penonton benar-benar bisa menikmatinya secara wajar-wajar saja.

Seorang atlet lompat jauh tuna-netra yang melompat menabrak kerumunan penonton memang mengundang belas kasihan.

Tetapi bagaimana kita tak kagum dengan atlet lompat jauh tuna netra juga yang mampu melompat di atas 4 meter?

Di situ kelihatan perbedaan dalam pembinaan. Atlet pertama agaknya kurang persiapan.

Sang pelatih membimbing lompatan dengan mengandalkan tepukan tangan di dekat batas lompatan. Sementara Itu pelatih Jepang dan Hongkong lebih matang dalam persiapan.

Mereka membimbing pendengaran sang atlet dengan pukulan sepasang kayu yang bunyinya cukup keras. Hasilnya. sang atlet melompat lebih mantap. tanpa ragu,  dan tentu saja hasilnya lebih baik.

Tampilan halaman Muka Tabloid BOLA No.133
Tampilan halaman Muka Tabloid BOLA No.133
DOK.BOLA

Metode yang sama diterapkan juga untuk lompat tinggi. Atlet dibimbing ke tempat start dan pelatihnya berada di depan mistar. Suara tepukan sang pelatih ditangkap "radar" di telinga sang atlet dan hup..melompatlah ia di atas mistar.

Harimau Menerkam

Masih dalam lompat tinggi, tapi untuk kecacatan yang lain. Bagaimana seorang atlet berkaki satu melompati mistar? Tak beda dengan atlet biasa. mereka ambil ancang-ancang, kemudian ... hup. Melompat.

Mereka ada yang bergaya flop yang terkenal itu.

Tetapi yang sukses, Sapri Tanjung dari Indonesia, sang perebut emas. dan Ahmad Syafi'i bin Ismail dari Malaysia, yang merebut perak. melompat dengan gaya "harimau menerkam"

Mereka melompat lurus ke muka dengan hentakan kuat satu-satunya kaki mereka, dan mendarat di matras dengan ... kepala terlebih dahulu!

Ini memang memerlukan suatu keberanian tersendiri.

Cabang lain yang cukup menarik adalah lawn bowl atau boling di luar gedung.

Lapangan yang dipakai adalah lapangan rumput. Dua pemain mengadu kebolehan melempar bola logam itu. menembak sasaran berupa bola bilyar putih.

Permainan ini bisa dimainkan oleh orang tak cacat, cacat tangan sebelah, cacat kaki dan tuna netra. Masyarakat Solo nampak banyak tertarik dengan permainan yang mirip "nekeran" atau main gundu ini.  

Lari cepat 50 meter untuk tuna netra juga tak kalah menarik.

Mereka bukan berlari bersama sebagaimana layaknya adu lari biasa. Mereka lari satu-satu, dan pelari dengan waktu terbaiklah jarang menang. Untuk lari bersama-sama memang sulit.

Seorang pelari yang start di lintasan tengah, ketika memasuki finish bisa sudah pindah di lintasan paling pinggir. Memang tidak di-dis, tetapi dengan berpindah linntasan berarti rugi waktu.

Kaki Copot

Khusus untuk pelari tuna netra, pelatih harus gesit juga di tempat finish. Sebab pelari hanya akan berhenti kalau ada yang "ngerem".

Jadi begitu menginjak garis finish atlet langsung harus ditangkap agar tak keterusan lari.

Penonton senyum, tapi mereka toh kagum juga.

Untuk nomor lempar cakram dan tolak peluru penyandang cacat paraplegia yang menggunakan kursi roda juga tak kalah uniknya. Yang terasa repot adalah persiapan mereka.

Kursi roda harus ditambatkan dengan kuat agar posisinya stabil. Untuk itu masing-masing atlet memakan waktu antara 8-10 menit.

Oleh karena itu untuk leblh praktisnya, pada setiap kesempatan atlet bisa melempar cakram atau menolak peluru 3 kali berturut-turut.

Dalam nomor lempar cakram ini atlet Indonesia Senny Marbun berhasil memecahkan rekor Fespic Games dengan lemparan sejauh 24.45 meter.

Rekor lama sekitar 22 meter lebih dibuat pada Fespic Games III di Hongkong.

Nomor lari cepat 100 meter yang dilakukan oleh atlet-atlet berkaki palsu sebelah benar-benar mengundang kekaguman tersendiri. Kecepatan lari mereka seperti atlet tak cacat saja.

Bahkan begitu semangatnya. seorang atlet Australia, Nigel Parsons, copot kaki palsunya menjelang finish.

Kekurangan

Memang, untuk juara umum Australia nampaknya benar-benar telah siap untuk memenangkan setiap pertandingan.

Selain di atletik Australia tak tertandingi di sejumlah nomor Iain termasuk gelanggang renang.

Hampir di setiap gelanggang, pelatih Australia nampak berperan aktif untuk merebut kemenangan. Kesan seperti itu terlihat pula pada pelatih Jepang dan Hongkong, tetapi kurang begitu terlihat pada pelatih kita dan Brunnei Darussalam, misalnya.

Jadi meski Solo terbukti sudah mampu menjadi tuan rumah pesta olahraga internasional ini, kekurangan- kekurangannya harus tetap dicatat, supaya kelak tidak terulang.

Misalnya, kendati panitia memang sibuk sekali, hendaknya api di kaldron sebagai lambang kobaran semangat bertanding tidak sampai padam selama dua hari.

Anjuran Presiden Soeharto yang membuka pekan olahraga ini agar masyarakat membantu dan mendukung terlaksananya pertandingan dengan lancar dan mencapai prestasi sebaik-baiknya, seharusnya memang kita laksanakan.

Jadi jangan malah menghambat para atlet Indonesia untuk berprestasi dengan cara mengurangi uang saku yang seharusnya Rp 45.000 (selama pertandingan) menjadi Rp 15.000

Hal seperti itu rasanya hanya bisa dilakukan oleh mereka yang memiliki "cacat akhlak".

Untuk itu YPOC perlu meyakinkan anggotanya bahwa di Fespic Games V dan seterusnya tidak ada tempat lagi bagi para penyandang cacat akhlak.

TOPIK :

Video Pilihan

Komentar