TOPIK TERPOPULER
Ilustrasi aksi Roger Milla di atas lapangan pada era 1980-an.
DOK. YIFA
Ilustrasi aksi Roger Milla di atas lapangan pada era 1980-an.

JUARA Klasik 21 Maret 1986; Teror Psikologis Batalkan Rekor Abadi Roger Milla

JUARA.net - Nama Roger Milla begitu melegenda di Benua Afrika. Striker yang sempat dua tahun merumput di Liga Indonesia bareng Pelita Jaya (1995) dan Putra Samarinda (1996) itu dikenal dunia berkat aksi fenomenal membawa tim nasional Kamerun menembus perempat final Piala Dunia 1990.

Sebelum bersinar di Piala Dunia, Milla terlebih dulu merajai Piala Afrika bersama Kamerun di era 1980-an.

Dia berandil besar atas prestasi Les Lions Indomptables alias Gerombolan Singa Perkasa menjejak final dalam tiga edisi beruntun (1984, 1986, 1988).

Milla juga nyaris menorehkan rekor abadi sebagai pemain pertama yang mampu mencatat hattrick juara Piala Afrika.

Dia gagal meraih medali emas turnamen edisi 1986 akibat kalah adu penalti dari tim tuan rumah, Mesir.

Ceritanya, Milla menjadi bintang kejuaraan waktu itu karena tajam dan kerap menentukan kemenangan atau sekadar menghindarkan kekalahan Kamerun. Seperti saat Kamerun menekuk Aljazair (fase grup; 3-2) dan Pantai Gading (semifinal; 1-0), serta mengimbangi Maroko (fase grup; 1-1).

Namun, penampilan Milla menurun drastis di partai final.

Dia tidak bisa membongkar rapatnya pertahanan Mesir selama 90 menit, plus setengah jam babak ekstra.

Adu penalti tak terhindarkan lagi guna mencari jawara Piala Afrika 1986.

Di sini, peruntungan Mesir lebih bagus. Sebanyak lima dari enam penendang sukses menjalankan tugas. Sedangkan dua dari enam eksekutor Kamerun, yakni Gregoire M’Bida dan Andre Kana-Biyik, gagal.

Piala Afrika 1986 berlangsung ketika situasi politik Mesir sedang tak kondusif dan membahayakan. Kami sungguh ketakutan saat itu, terutama para pemain muda. Kami gagal juara bukan semata-mata akibat kalah adu penalti di partai final, melainkan juga teror psikologis.”

Roger Milla, Legenda Tim Nasional Kamerun

Alhasil, Kamerun terpaksa mengubur mimpi juara dan hanya bisa menyaksikan selebrasi Mesir yang baru saja mengakhiri paceklik gelar Piala Afrika yang telah berlangsung selama 27 tahun sejak 1959.

Milla mengantongi predikat pemain tertajam Piala Afrika 1986, tetapi perasaannya terganggu karena kehilangan trofi juara.

Belakangan, dia membeberkan bahwa Kamerun bisa juara kalau saja tidak ada teror psikologis sepanjang turnamen.  

Situasi politik dan keamanan dalam negeri Mesir di Piala Afrika 1986 memang jauh dari kesan kondusif serta seringkali diterpa serangan teroris yang kontra terhadap rezim pemerintahan otoriter Presiden Hosni Mubarak.

Rekaman pertandingan final Piala Afrika antara Mesir versus Kamerun, 21 Maret 1986.
Rekaman pertandingan final Piala Afrika antara Mesir versus Kamerun, 21 Maret 1986.
YUDA PRATAMA/BOLA

TOPIK :

Komentar