TOPIK TERPOPULER
Aksi lifter Indonesia, Eko Yuli Irawan, saat melakukan angkatan clean and jerk kelas 62 kg putra pada 18th Asian Games Invitation Tournament di JiExpo, Jakarta, Minggu (11/2/2018).
FERNANDO RANDY/BOLA/BOLASPORT.COM
Aksi lifter Indonesia, Eko Yuli Irawan, saat melakukan angkatan clean and jerk kelas 62 kg putra pada 18th Asian Games Invitation Tournament di JiExpo, Jakarta, Minggu (11/2/2018).

Ketika Sang Olimpian Melawan Berat Badan

BOLASPORT.COM - Eko Yuli Irawan memasuki kamarnya di Mes Kwini, Jakarta, sehari sebelum pertandingan perdana di test event Asian Games (AG) 2018 dengan kepala menunduk. Keringatnya tak lagi bisa keluar, setelah empat jam mengurung diri dalam sauna.

Penulis: Persiana Galih

Kamar sauna yang masih berada di dalam kompleks mes adalah lokasi yang rutin dikunjungi pemegang perak angkat besi kelas 62 kg Olimpiade Rio de Janeiro 2016 itu dalam sepekan terakhir.

Ia sering mengurung diri di sana untuk mengatasi berat badannya yang kelebihan 5 kg.

Waktu Tabloid BOLA menemuinya, Sabtu (10/2/2018), Eko tengah meringkuk di lantai sauna. Tak lama kemudian, ia keluar, mengeringkan badan, dan berendam di kolam air dingin yang berdampingan dengan kamar sauna.

Aksi lifter Indonesia, Eko Yuli Irawan, saat melakukan angkatan kelas 62 kg putra pada 18th Asian Games Invitation Tournament di JiExpo, Jakarta, Minggu (11/2/2018).
Aksi lifter Indonesia, Eko Yuli Irawan, saat melakukan angkatan kelas 62 kg putra pada 18th Asian Games Invitation Tournament di JiExpo, Jakarta, Minggu (11/2/2018).
FERNANDO RANDY/BOLASPORT.COM

"Orang-orang bilang enak jadi atlet. Terima medali, dihargai, dapat bonus besar. Mereka enggak tahu perjuangan seperti ini," kata Eko.

Setelah sepekan bolak-balik sauna, malam itu berat badannya masih kelebihan 1 kg. Meski telah mengalami penurunan berat badan drastis, tapi selisih 1 kg dari 62 kg cukup membuatnya stres.

Eko terlihat murung hari itu. Ia tak banyak berbicara.

Waktu lifter-lifter lain berkumpul untuk sekadar bermain catur atau Playstation, ia memilih selonjoran di sofa sambil memijat kedua bola matanya yang terpejam.

Asisten pelatih tim nasional angkat besi, Muhammad Rusli, mengatakan bahwa Eko memang kerap terlihat stres jika berat badannya belum berhasil diturunkan. Apalagi, malam itu satu hari sebelum pertandingan.

"Kalau pun Eko kelebihan berat badan, biasanya satu hari sebelum pertandingan tinggal beberapa gram saja. Jadi wajar kalau sekarang dia stres begitu," tuturnya.

Malam itu pertandingan sudah dimulai, setidaknya bagi Eko pribadi. Lifter 28 tahun itu mesti mengalahkan musuh besarnya: berat badan yang sulit sekali dikontrol.

Hari pertandingan yang sesungguhnya datang juga. Minggu (11/2), Eko meninggalkan mes pukul 09.30. Ia mesti mengikuti timbang berat pukul 11.00.

Hasilnya melegakan. Berat badan Eko tak lebih dari 62 kg.

Manajer tim nasional angkat besi, Dirja Wihardja, langsung memberinya bonus semangkuk sop buntut karena Eko semalam hanya menyantap sepotong buah pisang dan apel.

Selain Eko, ada tiga atlet lain yang mengalami kelebihan berat badan sebelum test event AG 2018 digelar. Mereka adalah Surahmat (kelas 59 kg putra), Triyatno (69 kg putra), dan Sri Wahyuni (47 kg putri).

Lifter Indonesia, Surahmat bin Suwoto, melakukan angkatan clean and jerk pada nomor putra 56 kg 18th Asian Games Invitation Tournament di JiExpo, Jakarta, Minggu.
Lifter Indonesia, Surahmat bin Suwoto, melakukan angkatan clean and jerk pada nomor putra 56 kg 18th Asian Games Invitation Tournament di JiExpo, Jakarta, Minggu.
FERNANDO RANDY/BOLA/BOLASPORT.COM

Semuanya berhasil mengalahkan berat badan mereka saat timbang berat dua jam sebelum pertandingan.

Panggung milik kita

Tak ada yang dapat menyaingi Eko di atas panggung. Begitu pula dengan Surahmat dan Sri, yang juga mendapat emas test event AG 2018.

Sementara itu, Triyatno menyabet medali perak setelah angkatannya dikalahkan wakil Indonesia lain, Deni.

Eko menuntaskan pertandingannya dengan total angkatan 295 kg (snatch 135 kg, clean and jerk 160 kg).

Meski mendapat emas, ia gagal di angkatan terakhir, kala hendak menuntaskan barbel seberat 172 kg.

"Angkatan terbaik saya selama latihan menjelang test event adalah 172 kg. Jadi, saya penasaran saja dengan berat tersebut," katanya.

Aksi lifter Indonesia, Eko Yuli Irawan, seusai melakukan angkatan clean and jerk kelas 62 kg putra pada 18th Asian Games Invitation Tournament di JiExpo, Jakarta, Minggu (11/2/2018).
Aksi lifter Indonesia, Eko Yuli Irawan, seusai melakukan angkatan clean and jerk kelas 62 kg putra pada 18th Asian Games Invitation Tournament di JiExpo, Jakarta, Minggu (11/2/2018).
FERNANDO RANDY/BOLA/BOLASPORT.COM

Test event angkat besi diramaikan dengan kehadiran tim Arab Saudi, Singapura, Thailand, Brunei, dan Malaysia.

Sempurna atau tidak penampilan Eko selama test event, ia tetap berperan sebagai salah satu lifter yang ditargetkan emas di AG pada 18 Agustus-2 September.

Angkat besi mendapat amanat untuk mengantongi sekeping emas dari pemerintah.

Namun, tim pelatih punya target berbeda. Mereka optimistis dapat memboyong dua emas. "Satu emas lagi mungkin bisa dari Deni atau Yuni (Sri Wahyuni)," ujar Rusli.

Kesempatan Eko, Deni, atau pun Sri dalam menyabet emas AG 2018 semakin terbuka lebar setelah tim angkat besi China dan Kazakstan dilarang tampil di AG karena beberapa atletnya terbukti mengonsumsi doping.

Kedua negara tersebut termasuk dalam pesaing utama Indonesia.

Namun, mereka enggan berleha-leha. Soalnya, masih ada negara pesaing lain, yakni Vietnam, Thailand, Korea Utara, dan India.

Mengkritik panitia

Hari pertama penyelenggaraan test event angkat besi menuai kritik para lifter.

Sesuai dengan semangat test event, panitia memang membutuhkan masukan dari atlet sebagai pelaku utama kompetisi.

Sri, misalnya, mengkritik fasilitas di area peristirahatan lifter. Berdasarkan pengalamannya manggung di laga internasional, panitia semestinya menyediakan kasur yang nyaman bagi lifter peserta.

"Kalau di test event ini, kami hanya disediakan kasur busa yang digelar begitu saja. Itu tentu kurang nyaman bagi atlet yang mesti rileks sebelum dan sesudah pertandingan," ujarnya.

Tak hanya itu, ia pun berharap panitia menyediakan makanan dengan beraneka ragam jenis di sekitar tempat peristirahatan.

"Biasanya setelah timbang berat badan, kami langsung disajikan makanan di mini bar. Semua tersedia di sana. Tapi selama test event ini, kami hanya diberi nasi kotak. Itu pun datangnya terlambat," tuturnya.

Manajer kompetisi angkat besi, Alamsyah Wijaya, mengaku tengah mengumpulkan berbagai kritik baik dari atlet mau pun panitia pertandingan sendiri.

"Pokoknya kami tidak diam. Kami akan berusaha melayani setiap kebutuhan lifter selama AG nanti karena acara ini akan menjadi sejarah di masa mendatang," katanya.

TOPIK :

Komentar