TOPIK TERPOPULER
Pebalap sepeda Timnas Indonesia, Projo Waseso, meraih podium kedua pada gelaran Tour De Indonesia 2018 etape pertama, Prambanan-Ngawi, dengan jarak tempuh 124,7 kilometer, Kamis(25/01/2018).
FERNANDO RANDY/BOLA/BOLASPORT.COM
Pebalap sepeda Timnas Indonesia, Projo Waseso, meraih podium kedua pada gelaran Tour De Indonesia 2018 etape pertama, Prambanan-Ngawi, dengan jarak tempuh 124,7 kilometer, Kamis(25/01/2018).

Profil Projo Waseso: Cemoohan yang Berbuah Kemenangan

JUARA.NET - Projo Waseso awalnya diajak sang ayah untuk mengayuh sepeda kecilnya ke alun-alun Sidoarjo. Setiap hari sebelum sekolah bahkan hingga larut malam, ayah dan anak tersebut tak lepas menunggangi sepeda.

Sepeda telah menjadi bagian hidup Projo. Di mana ada sepeda disitu ada Projo.

Sang ayah yang melihat bakat dalam diri Projo kemudian mengarahkan dia untuk menjadi atlet saat berusia 16 tahun.

Projo memang kadung jatuh cinta dengan sepeda. Sempat difokuskan mendalami sepak bola dan voli, Projo menolak.

Bahkan, banyak saudara-saudaranya yang tak setuju dengan keinginan Projo yang ingin berprofesi sebagai atlet.

Baca juga: Insiden Berdarah Warnai Laga Final Ganda Putra German Open 2018

“Saya diceramahin oleh saudara-saudara sendiri karena ingin menjadi atlet. Akhirnya ayah saya berani mengeluarkan keputusan dengan mengizinkan saya menjadi atlet sepeda,” ujar pria asal Sidoarjo tersebut.

Langkahnya menapaki jejak sebagai atlet tak semudah membalikkan telapak tangan. Prestasi Projo yang terus menanjak bersama klubnya Araya Sidoarjo malah menjadi bumerang untuk dirinya.

Ia sering mendapat cemoohan dari teman-temannya di SMA bahkan hingga pebalap-pebalap yang bersaing dengan Projo ikut memperolok Projo.

Namun, Projo tak pernah melihat hal tersebut sebagai masalah. Ia justru menjadikan hinaan itu menjadi hasil positif,

“Dulu sering di-bully karena saya adalah pebalap sepeda karbitan yang bisa mengikuti level senior, padahal usia masih junior. Saya anggap hinaan dari mereka sebagai acuan saya untuk terus menang pada saat itu,” ucap peraih medali perak SEA Games 2011 Indonesia itu.

Usaha tak membohongi hasil. Prestasi yang terus digapai Projo di level nasional, membuat ia direkrut oleh klub kontinental asal Laos, CCN.

Ia mengaku banyak perbedaan antara tim sepeda di Indonesia dengan luar negeri. Tim yang dibelanya telah mengatur jadwal kompetisi untuk satu musim.

Sementara itu, saat bersama klub lokal, Projo menyebut kompetisi antar klub di Indonesia belum sebanyak di luar negeri.

Baca juga: Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto Jadi Runner-up, Indonesia Lanjutkan 15 Tahun Puasa Gelar German Open

“Kalau di luar negeri itu disiplin dan memiliki tanggung jawab  untuk mengikuti turnamen di dalam negeri maupun luar negeri. Kalau tim lokal ya susah, kecuali timnya berstatus kontinental,” ucap pria berusia 30 tahun itu.

Membela klub CCN selama tiga tahun membuat dirinya turut dipanggil tim nasional (timnas) sepeda dan beberapa kali mengikuti kejuaraan multi-event yakni SEA Games pada 2007 (Thailand), 2009 (Myanmar), 2011 (Indonesia).

“Saya bersyukur selalu dipercaya membela timnas sepeda. Meski sekarang saya belum dipanggil kembali untuk memperkuat Asian Games 2018, saya ingin terus membuktikan diri dengan prestasi yang saya buat,” tutur Projo.

Projo kini memang tak lagi berstatus sebagai bagian timnas sepeda. Akan tetapi, berbekal prestasi yang terus menanjak dan kematangan diri saat menjadi pemimpin di trek, bukan tak mungkin Projo bisa kembali memperkuat timnas.

“Projo adalah pebalap sepeda yang bisa membawa junior-juniornya dengan sangat baik. Ia bisa menerapkan pengalaman dan menerjemahkan strategi pelatih dan disampaikan kepada pebalap timnas dengan sangat baik,” ujar Manajer Timnas Balap Sepeda, Budi Saputra.

Pembuktian Projo terlihat setelah sekian lama absen dari mengikuti tur, tetapi masih bisa membuktikan diri sebagai salah satu sprinter terbaik yang dimiliki Indonesia. Tercatat, Projo sukses menjadi runner-up etape 1 pada ajang Tour de Indonesia 2018.

Kini, Projo ingin membuktikan diri. Meski telah berusia kepala tiga, Projo masih mampu menjadi leader yang tepat untuk timnas Indonesia.

Baca juga: Terpopuler Olimpik - Panggilan Alam di Tengah Laga MMA, Petinju Dinamit Dunia, hingga Kegagalan China pada Final German Open 2018

“Saya berencana akan terus mengayuh sepeda saya hingga PON 2020 di Papua. Saya merasa jika rutin latihan dan memiliki klub yang tepat, prestasi saya tak akan menurun meski usia terus menua,” ujar Projo penuh semangat.

Kini, ia masih berlatih sendiri karena belum memiliki klub setelah tak lagi memperkuat CCN. Ia berharap timnas sepeda Indonesia mendaftarkan diri untuk menjadi tim kontinental, seperti yang dilakukan timnas Thailand.

“Saya yakin jika Indonesia semakin banyak klub berstatus kontinental, tak akan mudah mencari pebalap seperti Tonton Susanto atau Ryan Arieehan,” ucap pria yang telah memiliki satu anak itu.

Indonesia Punya Aiman

Projo tak malu-malu untuk menyebutkan siapa pebalap sepeda yang pantas menyandang predikat sebagai penerusnya kelak. Ia melihat sosok itu ada di dalam diri Aiman Cahyadi.

Pebalap asal tim Sapura (Malaysia) itu memang sedang di dalam masa top performa.

Saat ini, Aiman berstatus pebalap sepeda timnas dan sedang dipersiapkan untuk membela Indonesia pada ajang Asian Games 2018 yang digelar di Jakarta-Palembang, 18 Agustus-2 September.

Baca juga: Indian Wells Masters 2018 - Dominic Thiem Siap Hadapi Kesulitan Andai Bertemu Petenis Elite Dunia

“Aiman itu sudah mencapai level pro tour. Namun, ia masih berada di tingkat good, bukan excellent,” ujar Projo.

Projo yang kini juga menjabat sebagai pegawai negeri Kalimantan Timur, tentu menginginkan prestasi balap sepeda Indonesia bisa terus meningkat.

“Jika ingin maju dan bersaing dengan negara-negara kuat Asia, Indonesia masih perlu perbaiki kompetisi, teknologi, dan pengetahuan tentang  disiplin ketika balapan,” ucap Projo mengakhiri perbincangan.

TOPIK :

Video Pilihan

Komentar