TOPIK TERPOPULER
Atlet difabel Indonesia, Jaenal Aripin, seusai menjalani lomba pada test event Asian Para Games 2018, di Stadion Madya, Senayan, Jakarta, Sabtu (30/6/2018).
NUGYASA LAKSAMANA/BOLASPORT.COM
Atlet difabel Indonesia, Jaenal Aripin, seusai menjalani lomba pada test event Asian Para Games 2018, di Stadion Madya, Senayan, Jakarta, Sabtu (30/6/2018).

Mahalnya Kursi Roda Balap Difabel, Bisa Sampai Rp 200 Juta Lebih

JUARA.NET - Peralatan dan perlengkapan olahraga untuk atlet difabel memang tak mudah didapatkan. Tak kira-kira, harganya bisa mencapai ratusan juta rupiah untuk sebuah alatnya.

Salah satu contoh peralatan olahraga difabel yang harganya tergolong tinggi yakni kursi roda balap pada cabang para atletik.

Baca juga: Atlet Difabel Telat Makan, Volunteer Asian Para Games Diminta Perbaiki Komunikasi

Pada test event Asian Para Games (APG) yang tengah berlangsung di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Sabtu (30/6/2018), BolaSport.com berbincang-bincang dengan Jaenal Aripin, atlet balap kursi roda Indonesia.

Menurut pria asal Bandung, Jawa Barat tersebut, untuk kursi roda balap berstandar internasional, harganya bisa mencapai Rp 200 jutaan.

Mahalnya kursi roda balap berstandar internasional, kata Jaenal, tak terlepas dari bahan material yang digunakan. Semakin mahal, tentu semakin bagus pula kualitasnya.

"Ada kursi roda yang kualitasnya lebih bagus dari yang saya pakai, bahannya full carbon. Kalau punya, bahan carbonnya cuma sebagian," ujar Jaenal kepada BolaSport.com dan para awak media lainnya.

"Kalau yang full carbon, otomatis bahannya juga beda (lebih ringan). Untuk kursi roda yang baru, harganya bisa di atas Rp 200 juta. Alatnya dari Amerika Serikat," tutur dia.

Jaenal menyatakan bahwa kebanyakan atlet difabel Indonesia yang tergabung di pelatnas masih menggunakan peralatan rakitan dalam negeri.

Tak cuma kursi roda balapnya saja yang mahal, tetapi juga sarung tangan khusus yang digunakan oleh atlet bersangkutan.

Sepasang sarung tangan khusus untuk balap kursi roda, kata Jaenal, bisa mencapai Rp 6 juta, dan minimal harus membeli setengah lusin.

Sejauh ini, di Indonesia belum ada yang menjual sarung tangan tersebut. Beruntung, Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), berjanji akan mengakomodir kebutuhan Jaenal dan atlet-atlet difabel lainnya.

"Sarung tangan itu penting banget. Nah, yang punya saya sudah habis. Sedangkan sekali beli menghabiskan Rp 30 jutaan karena minimal harus beli setengah lusin," ucap Jaenal.

"Saya kemarin sudah coba cari-cari tukang jahit andal sekalipun di Indonesia, tetap dia nggak bisa. Masalahnya nggak ada mesin yang buat jahit karetnya," tutur dia.

Peralatan untuk atlet berkebutuhan khusus memang tak sembarangan. Alat yang dipakai harus menyesuaikan dengan ukuran tubuh sang atlet agar nyaman dipakai layaknya sepatu.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, tentu perlu sokongan dari berbagai pihak agar para atlet difabel bisa mencapai prestasi yang diharapkan.

TOPIK :

Komentar