TOPIK TERPOPULER
Aksi Fatchur Roji (Jawa Timur) ketika mencapai top disiplin boulder untuk nomor combined putra Kejurnas Panjat Tebing 2018 pada Minggu (1/12/2018) di Kompleks Manahan, Solo.
ANY HIDAYATI/BOLASPORT.COM
Aksi Fatchur Roji (Jawa Timur) ketika mencapai top disiplin boulder untuk nomor combined putra Kejurnas Panjat Tebing 2018 pada Minggu (1/12/2018) di Kompleks Manahan, Solo.

Kejurnas Panjat Tebing 2018, Medali Emas Combined Putra Diraih Fatchur Roji

JUARA.NET - Atlet perwakilan Jawa Timur, Fatchur Roji, berhasil menyabet medali emas pada Kejurnas Panjat Tebing 2018.

 

Fatchur Roji mendapatkan medali emas di Kejurnas Panjat Tebing 2018 di kategori combined putra.

Fatchur Roji mampu mengalahkan Rifaldi Ode Ridjaya (Bali) yang meraih medali perak dan peraih medali perunggu yaitu Alfian M Fajri (Jawa Tengah).

Pelatih kontingen Jawa Timur, Iswara, pun mengucap syukur dengan hasil yang sudah dicapai para atletnya.

"Yang pasti kami, saya bersyukur atas raihan ini," kata Iswara saat ditemui BolaSport.com di Kawasan Stadion Manahan, Solo pada hari Minggu (2/12/2018).

Baca juga: Bukan Rivalitas Berat atau Cedera, Hal Ini Akan Buat Marc Marquez Pensiun

Meski demikian, pelatih kontingen Jawa Timur itu mengaku tidak cepat puas dengan hasil di kejurnas tahun ini.

Iswara ingin memperbaiki performa para atletnya agar mampu tetap bersaing di kancah nasional.

"Cuma tetap kita tidak akan santai-santai, kami akan tetap evaluasi menyeluruh dan memantau atlet daerah lain yang bisa menjadi pesaing kita," ujar Iswara.

"Banyak yang harus dievaluasi, terlebih di nomer yang gagal," tutur beliau menambahkan.

Baca juga: Presiden UFC Bela Khabib Nurmagomedov dari Ancaman Hukuman Berat

Jawa Timur sukses keluar sebagai juara umum dengan jumlah 14 medali secara keseluruhan dimana enam diantaranya adalah medali emas.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 

Jurnalis olahraga senior, Weshley Hutagalung, mempertanyakan peran media dalam mengungkap dugaan pengaturan skor pada sepak bola Indonesia. Kurang aktifnya media dalam melakukan investigasi mendalam dinilai Weshley Hutagalung sebagai salah satu penyebab sulitnya pengungkapan praktik kotor ini. Pria yang akrab disapa Bung Wesh itu menilai pemberitaan media saat ini kerap luput untuk menyajikan 'why' dan 'how' terhadap suatu topik. "Saya jadi wartawan sejak 1996, pernah bertemu dengan beberapa orang pelaku sepak bola sampai wasit. Kasihan dari tahun ke tahun, federasi (PSSI) mewarisi citra buruk," kata Weshley Hutagalung dalam diskusi PSSI Pers di Waroeng Aceh, Jumat (30/11/2018). "Pertanyaannya, wartawan sekarang itu ingin mendengar yang saya mau atau yang saya perlukan? Kemudian muncul karya kita. Lalu masyarakat juga memilih (informasi)," ujarnya. Ditambahkannya, fenomena ini terjadi karena perubahan zaman terhadap gaya pemberitaan media akibat permintaan dan tuntutan redaksi yang kini mengutamakan kuantitas dan kecepatan. Pria yang wajahnya sudah akrab muncul sebagai pundit sepak bola pada tayangan sepak bola nasional ini sedikit memahami perubahan zaman, meski tetap mempertanyakan peran media. "Dulu kami punya waktu untuk investigasi dan analisis, sekarang tidak. Kemana aspek 'why' dan 'how' atas peristiwa ini?" tuturnya mempertanyakan. "Sekarang malah adu cepat. Ditambah lagi sekarang ada media sosial, sehingga media massa bukan lagi menjadi sumber utama informasi terpercaya," ucapnya miris. #pssi #journalist #sportjournalist #matchfixing

A post shared by BolaSport.com (@bolasportcom) on

TOPIK :

Video Pilihan

Komentar