TOPIK TERPOPULER
Final polo air putri DKI Jakarta kontra Jabar  2nd Indonesia Open Aquatic Championship 2018, di GBK Aquatic Stadium, Minggu (02/12/2018).
PB PRSI
Final polo air putri DKI Jakarta kontra Jabar 2nd Indonesia Open Aquatic Championship 2018, di GBK Aquatic Stadium, Minggu (02/12/2018).

Bungkam DKI Jakarta, Tim Polo Air Jabar Raih Medali Emas IOAC 2018

JUARA.NET - Tim polo air putri Jawa Barat meraih medali emas pada Indonesia Open Aquatic Championship 2018 setelah mengalahkan DKI Jakarta pada final yang berlangsung di GBK Aquatic Stadium, Jakarta, Minggu (2/12/2018).

 

Jual beli serangan langsung tersaji sejak babak pertama. Jawa Barat unggul tipis 3-1 atas DKI Jakarta.

Keunggulan untuk Jabar kembali berlanjut di babak kedua. Baik Jabar maupun DKI Jakarta sanggup menambah dua gol, hingga skor 5-3 untuk keunggulan Jabar menutup babak kedua.

Pada babak ketiga, DKI Jakarta memperkecil ketinggalan dengan mencetak tiga gol. Namun, Dinda Anugrah dan kawan-kawan masih tertinggal 6-7.

Pada partai final, kedua tim saling menaikkan tempo permainan. Meski begitu Jabar lebih unggul hingga mampu menutup laga dengan kemenangan tipis 9-8.

Dengan hasil ini, Jawa Barat keluar sebagai jawara cabang Polo Air Putri 2nd Indonesia Open Aquatic Championship atau berhak atas emas, setelah mengantongi enam poin hasil menyapu bersih tiga kemenangan.

DKI membuntuti di posisi dua atau perak dengan koleksi empat poin.

Sementara itu, Sumatera selatan yang dilaga terakhirnya menang 19-6 atas Jambi berhak atas perunggu dengan dua poin.

Alya Nadira yang tampil membela DKI Jakarta menjadi top skorer dengan 14 gol.

Kiper Jawa Barat, Ayudya Suidarwanty berhasil menyabet predikat penjaga gawang terbaik.

Gelar pemain terbaik diraih Ivy Nernie Priscilla yang juga berasal dari Jawa Barat.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 

Jurnalis olahraga senior, Weshley Hutagalung, mempertanyakan peran media dalam mengungkap dugaan pengaturan skor pada sepak bola Indonesia. Kurang aktifnya media dalam melakukan investigasi mendalam dinilai Weshley Hutagalung sebagai salah satu penyebab sulitnya pengungkapan praktik kotor ini. Pria yang akrab disapa Bung Wesh itu menilai pemberitaan media saat ini kerap luput untuk menyajikan 'why' dan 'how' terhadap suatu topik. "Saya jadi wartawan sejak 1996, pernah bertemu dengan beberapa orang pelaku sepak bola sampai wasit. Kasihan dari tahun ke tahun, federasi (PSSI) mewarisi citra buruk," kata Weshley Hutagalung dalam diskusi PSSI Pers di Waroeng Aceh, Jumat (30/11/2018). "Pertanyaannya, wartawan sekarang itu ingin mendengar yang saya mau atau yang saya perlukan? Kemudian muncul karya kita. Lalu masyarakat juga memilih (informasi)," ujarnya. Ditambahkannya, fenomena ini terjadi karena perubahan zaman terhadap gaya pemberitaan media akibat permintaan dan tuntutan redaksi yang kini mengutamakan kuantitas dan kecepatan. Pria yang wajahnya sudah akrab muncul sebagai pundit sepak bola pada tayangan sepak bola nasional ini sedikit memahami perubahan zaman, meski tetap mempertanyakan peran media. "Dulu kami punya waktu untuk investigasi dan analisis, sekarang tidak. Kemana aspek 'why' dan 'how' atas peristiwa ini?" tuturnya mempertanyakan. "Sekarang malah adu cepat. Ditambah lagi sekarang ada media sosial, sehingga media massa bukan lagi menjadi sumber utama informasi terpercaya," ucapnya miris. #pssi #journalist #sportjournalist #matchfixing

A post shared by BolaSport.com (@bolasportcom) on

TOPIK :

Video Pilihan

Komentar