TOPIK TERPOPULER
Pasangan ganda campuran Indonesia, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, berbicara dalam konferensi pers setelah memastikan diri ke babak semifinal Indonesia Open 2018 di Istora Senayan, Jakarta, Jumat (6/7/2018).
ERIS EKA JAYA/KOMPAS.COM
Pasangan ganda campuran Indonesia, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, berbicara dalam konferensi pers setelah memastikan diri ke babak semifinal Indonesia Open 2018 di Istora Senayan, Jakarta, Jumat (6/7/2018).

Owi/Butet, Sang Pejuang Sejati yang Mencari Penerus

Penyair termasyhur Nusantara, Pramoedya Ananta Toer, memaknai pejuang ialah mereka yang tak kenal lelah dan menyerah di setiap upayanya. Mungkin, kutipan tersebut sejalan untuk disematkan kepada ganda campuran Indonesia, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, dan ganda putra, Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo.

Mengapa tidak? kedua ganda andalan Indonesia di nomor campuran dan putra itu mampu mempersembahkan gelar juara di Indonesia Terbuka 2018 pada final yang digelar Minggu (8/7).

Hasil melegakan yang digapai garda Indonesia di Istora. Mengingat, kali ini Indonesia mampu raih dua gelar di negeri sendiri, sama seperti perolehan gelar pada 2008 silam.

Owi/Butet, sapaan akrab Tontowi/Liliyana, memaksa finalis Olimpiade Rio 2016 asal Malaysia, Chan Peng Soon/Goh Liu Ying, menyerah dengan skor, 21-17, 21-8, dalam final ajang yang bertajuk Blibli Indonesia Open 2018 yang didukung oleh Bakti Olahraga Djarum Foundation yang digelar di Istora, Senayan, Jakarta. Sebelumnya, Indonesia juga juara melalui perjuangan Owi/Butet, pada 2017.

Jatuh bangun Owi/Butet di lapangan berbuah jempolan. Dalam laga yang berlangsung 38 menit, Owi/Butet sanggup menjaga ritme menyerang dan bertahan dengan efesien.

Pasca euphoria kemenangan, mata Butet berkaca-kaca, seakan tak percaya bahwa gelar juara Indonesia Terbuka ketiganya juga memiliki makna perpisahan. Pasalnya, besar kemungkinan Indonesia Terbuka 2018 akan menjadi yang terakhir bagi Butet.

(Baca Juga: Thailand Open 2018 - 7 Wakil Indonesia Berhasil Raih Kemenangan pada Babak Kualifikasi)

"Buat saya, rasa senang dan sedih menjadi satu. Karena ini terakhir kali saya bermain di Indonesia Terbuka," ujar Butet, yang meraih emas Olimpiade Rio 2016 bersama Owi.

Sebagai pejuang, Owi/Butet, hanya memiliki satu pekerjaan rumah yang belum pernah mereka gapai, yakni emas di Asian Games (AG).

Butet percaya jika siapa yang memiliki amunisi lengkap dari segi mental, fisik dan teknik, itu akan  keluar sebagai kampiun AG.

"Saya sangat membutuhkan pengalaman dan kualitas Owi/Butet, untuk mencapai target di AG," ujar pelatih kepala ganda campuran, Richard Mainaky, kepada Bolasport.

Perjuangan pejuang Indonesia di arena bulu tangkis tak berhenti di Owi/Butet. Pasangan ganda putra, Marcus/Kevin, sanggup menambah gelar juara dengan mengalahkan ganda Jepang, Takuto Inoue/Yuki Kaneko, 21-13, 21-16, dalam waktu  31 menit.

Demi meraih gelar pertamanya di Indonesia Terbuka, Marcus/Kevin harus melewati duo Mads, Mads Conrad-Petersen-Mads Pieler Kolding, di babak perempat final dengan penuh lakon.

Keputusan umpire yang mengabulkan permintaan challenges untuk pasangan Denmark, pada gim ketiga, ternyata memicu emosi Kevin yang merespon dengan berani menjungkirkan jempolnya, tanda meremehkan lawannya.

Kevin menilai bahwa hal tersebut tidak adil, karena seharusnya pemain harus sesegera mungkin memutuskan untuk menggunakan haknya untuk challenges, tanpa adanya jeda.

Dibalik drama tersebut, raihan juara Marcus/Kevin, menjadi tanda berhentinya kutukan ganda putra Indonesia puasa gelar sejak 2013, yang terakhir diraih Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan.

"Menang di Istora rasanya luar biasa sekali. Kemenangan ini menjadi motivasi lebih buat kami." ujar Marcus.

TOPIK :

Video Pilihan

Komentar