TOPIK TERPOPULER
Anthony Sinisuka Ginting (kiri) bersalaman dengan Viktor Axelsen (kanan) setelah pertandingan perempat final Japan Open 2018.
BADMINTONINDONESIA.ORG
Anthony Sinisuka Ginting (kiri) bersalaman dengan Viktor Axelsen (kanan) setelah pertandingan perempat final Japan Open 2018.

Viktor Axelsen dan Batu Sandungan dari Kento Momota

JUARA.NET - Pebulu tangkis tunggal putra Denmark, Viktor Axelsen, gagal melaju ke final Japan Open 2018 yang berlangsung 11-16 September.

Viktor Axelsen kalah dari Kento Momota (Jepang), 18-21, 11-21, pada babak semifinal yang berlangsung di Musashino Forest Sport Plaza, Sabtu (15/9/2018).

Bagi Axelsen, ini merupakan kekalahan ke-9 dari total 10 pertemuan dengan Momota.

Satu-satunya kemenangan yang didapat Axelsen atas Momota terjadi pada German Open 2014.

Kala itu, Axelsen yang peringkat dunianya masih lebih rendah dari Momota berhasil membuat kejutan dengan menang 21-17, 21-12.

Nama Momota mulai meroket setelah penampilan cemerlangnya pada Piala Thomas 2014.

Dia menjadi penentu kemenangan tim Thomas Jepang setelah mengalahkan Du Pengyu pada semifinal melawan China hingga mengantar Jepang menjuarai Piala Thomas 2014 ketika menjumpai Malaysia.

Menurunnya karier Momota pada awal 2016 akibat kasus judi ilegal membawa hikmah bagi Axelsen.

Momota yang mendapat hukuman larangan bertanding selama dua tahun, memudahkan jalan bagi Axelsen meraih medali perunggu pada Olimpiade Rio 2016.

Baca juga: Berita Asian Para Games 2018 - Inapgoc Sediakan Ojek Disabilitas di Jakarta)

Axelsen selanjutnya menjelma menjadi salah satu pebulu tangkis berbahaya karena mampu mengalahkan sejumlah pemain unggulan yakni Lee Chong Wei, Lin Dan, Chen Long, Son Wan-ho, dan banyak lagi.

Dia menempati peringkat pertama dunia dalam ranking terbaru yang dirilis BWF pada 28 September 2017.

Axelsen naik ke posisi puncak setelah menjuarai Japan Open 2017.

Pada partai puncak, dia menumbangkan wakil Malaysia, Lee Chong Wei, dalam pertandingan tiga gim.

Dengan tambahan 9.200 poin dari Japan Open, Axelsen menyalip pemain Korea, Son Wan-ho, yang sebelumnya menduduki posisi pertama.

Axelsen bisa menjadi pemain nomor satu karena berhasil memenangi beberapa turnamen besar.

Empat turnamen besar yang berhasil dimenangi Axelsen adalah India Open, Kejuaraan Dunia, Japan Open, dan BWF Superseries Finals 2017.

Setelah sempat tergusur dari peringkat satu dunia pada awal April 2018 yang diduduki oleh pemain terbaik India, Kidambi Srikanth, Axelsen kembali menjadi pemain nomor satu dunia dalam daftar ranking terbaru yang dirilis BWF pada 19 April lalu.Baca juga: Japan Open - Kalah dari Wakil China, Fajar/Rian Akan Evaluasi Posisi Saat Hadapi Poin Kritis

Pebulu tangkis berusia 24 tahun ini telah mencapai banyak prestasi gemilang di bulu tangkis.

Sederet pretasi itu yaitu meraih medali perunggu Olimpiade Rio 2016, menyabet gelar juara dunia 2017, hingga menjadi pemain peringkat kesatu dunia saat ini.

Namun, Momota menjadi salah satu batu sandungan bagi Axelsen.

Setelah resmi kembali ke timnas Jepang pada awal 2018, Momota sudah memenangi berbagai gelar prestisius yakni juara Kejuaraan Asia, Juara Indonesia Open 2018, hingga Juara Dunia 2018.

Kento Momota (Jepang) ketika tampil di babak 32 besar Japan Open 2018, Selasa (11/9/2018), di Musashino Forest Sport Plaza, Tokyo.
Kento Momota (Jepang) ketika tampil di babak 32 besar Japan Open 2018, Selasa (11/9/2018), di Musashino Forest Sport Plaza, Tokyo.
badspi.jp

Pada pertemuan pertama pasca-Momota bebas hukuman, Axelsen kalah 17-21, 9-21 pada semifinal Piala Thomas 2018 di Bangkok, Thailand.

Asa Axelsen untuk mencapai gelar pada turnamen Indonesia Open 2018  kembali pupus setelah pada pertemuan kesembilan dengan Momota, dia kembali takluk, dengan skor 14-21, 9-21.

Melalui hasil tersebut, catatan pertemuan Axelsen dan Momota pun terevisi menjadi 1-8.

"Saya tidak betul-betul mengingat berapa kali saya kalah dari dia. Yang jelas, saya kecewa karena tampaknya saya tidak belajar apa-apa dari kekalahan-kekalahan sebelumnya," kata Axelsen saat itu.

Kini, Kento Momota kembali menjadi batu sandungan bagi Viktor Axelsen untuk mengulangi kesuksesan tahun lalu.

Usaha Axelsen untuk meraih gelar masih akan berlanjut pada China Open (18-23 September) dan Korea Open (25-30 September).

TOPIK :

Komentar